Skip to main content

Posts

Dirundung Kabut - puisi oleh Putri Maharani, Padang

  Dirundung Kabut Aku si gabut Dirundung kalang kabut Yang tak berbuih  Menjelma malam dengan  tawar pada gemuruh tak berpintu  Ya..?  Entah kenapa semua terasa seakan begitu egois Mengejar tugas kala lengah menyabet genting Yang membuat genteng bergetar menggertak otak kerontang Sungguh kau..  Benar-benar keji Tak punya hati Dengan seribu ambisi mengambigu mimpi Oh, Tuhan..  Giring aku dengan kemudahan Agar jalan tak sampai berbalik menyeru  Memudahkan heningku  Dengan seribu lelehan hangat rembulan  Kala mentari tersambut riang menusuk kalbu Mendekap Lalu Membisikkan ide yang tak terbilang Pada diri yang tertatih dalam kegabutan yang hakiki Putri Maharani  Padang, 04 September 2021
Recent posts

Tragedi Tekanan Batin - Puisi oleh Nada dan Sisi

Tragedi Tekanan Batin Buah pikiran Sisi Natia & Nada Febriani Syafira Laksana awan membungkuk menjatuhkan air mata, tergeletak diatas tanah Rinai hujan menggelitik kelopak mata Penyebab remang menangkap bayang,hingga Rona pipi menyelinap menusuk palung jiwa. Galaksi nan tertata rapi karam terkikis. Terkikis oleh derai kristal murni Hirap tenggelam diufuk barat Sukma saling bertaut siulan namun yang menyaut hanya diam membisu Asmaraloka kian menyelimuti ringkuhan hati Ambivalen anak adam kian menyeruak hingga ufuk langit Menyanyikan lagu syahdu nan menangkan kalbu Menyelundupkan detak jantung hinggap menusuk otak ku (Bingar suara hujatan ditumpangi sesosok iblis yang mondar mandir diberandaku  Memadamkan kobaran dendam yang tak berkesudahan)  Hingga cakrawala menari merayakan kemenangan hati Indonesia bagian barat 20 Oktober 2021 Nada dan Sisi ditempat,

Yth, Aku di lorong waktu "Selamat Tahun Baru 2021"

Yth, Aku di lorong waktu Kepada aku di masa lalu Terimakasih telah ciptakan kisah indah tentang waktu Terimakasih atas kenangan indah yang kau wariskan padaku Kepada aku di masa lalu Maaf, mimpimu telah ku kacaukan tak tersampaikan Maaf masa depanmu ini tak seperti yang kau inginkan Yang terhormat, aku di masa depan Inilah kamu dari kini Inilah kamu dari balik lorong waktu Inilah kami yang menancapkan harapan padamu Ku petcayakan hari esok yang indah padamu Aku Indonesia, 1 Januari 2021 #KerajaanPuisi #TahunBaru2021 #UcapanTahunBaru #KataBijak

TERPERANGKAP SUNYI (Puisi oleh Bintang Cahaya Abadi)

TERPERANGKAP SUNYI Oleh : Bintang Cahya Abadi  Dengan siapakah  aku akan berjalan sekarang ini? Sampai terseok juga  tak mungkin ada bangkai peduli  Jalanan bisu di lubang sunyinya aku terbaring kaku. Dulu ibu menyuapiku Tangannya penuh kasih, sayang, manusia-manusia  jalang. Disulut emosi  ketidakpastian  Dan egois membara pula Cinta datang  dalam wujudnya  yang ramah, tapi ia tak akan peduli  di wajahnya hanya  kekelaman dari lembar duniawi (Iblis bisa saja menyamar) Dengan siapakah  Aku berjalan? Solo, 1 Juni 2020

Akhir Kisah Kita (Puisi oleh Waam)

Akhir kisah kita  Kita  Hanya ada aku dan kamu  Hanya ada cinta dan rindu  Yang terikat menjadi satu  Telah kutuliskan kalimat yang terlihat indah  Namun tak menyimpan sebuah makna berharga  Telah kunyayikan sebuah lagu istimewa  Namun penuah akan duka  Siapa yang menyangka  Setelah kita kembali berjumpa  Dan menciptakan sebuah  kisah penuh cinta  Yang tak mungkin bisa terlupa  Tapi kini  Kau telah tiada  Pergi menghadap sang pencipta  Dan meninggalkanku sendiri di dunia Waam  Sidoarjo, 29 juli 2020

LUKA YANG KUCINTA (Puisi oleh Imam Hambali)

LUKA YANG KUCINTA  Apa salahnya aku mencintai hujan Jika di dalam genangan itu, aku bisa menemukanmu Walau setiap rintik yang jatuh Adalah luka yang membalut ragaku Apa salahnya aku membiarkan rindu membanjir Menghanyut sesuatu yang kusebut bahagia Menyesatkan aku pada keadaan yang sulit aku pahami Apa salahnya aku membiarkan rasa ini terus mengalir Jika dengan begini serangkaian puisi bisa aku tulis Walau setiap kata dari bait-baitku Hanya air mata yang menjelma Imam Hambali Sumenep, 19-12-2020

TRAGEDI AKHIR TAHUN (Puisi Oleh AHMAD FAIZ FAUZAN)

AHMAD FAIZ FAUZAN TRAGEDI AKHIR TAHUN Dua bulan terakhir... Tuan dan puan yang terhormat... Suara langkah menggemah tak henti henti... Dengan silih berganti teriakan mahasiswa mengkritisi... Tapi nyatanya... para kuda hitam sudah menanti... Menunggu kesempatan untuk mengintimidasi Dua bulan terakhir... Di bawah matahari sembilu... Kami gemahkan nada intrupsi... Kepada tuan dan puan ... yang kepala batu... Yang diambil sumpahnya untuk mengabdi... Tapi janjimu hanya benalu... Dua bulan terakhir... Lenkingan suara penolakan... Terlintang di seluruh dunia... Terdengar pekat di telingamu... Apakah gaji tuan sangat rendah? Atau puan yang malu jika tak bermobil mewah? Keluar dan saksikanlah sendiri... Takkala Suara-suara kami bersatu... Dari mahasiwa... anak sekolah... hingga buruh tani... Menolak keputusanmu yang mengebiri kami... Dua bulan terakhir... Bapak ibu lupa janji... dan gemar wara wiri... Peraturan banyak ditetapkan untuk memperbaiki negri ini... Tapi korbannya bertamba...