Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2019

Coretan Pejuang Luka

Kita berada dalam pertengahan drama senja tatkala jingga tak lagi bergeming pada waktunya. Aku membias dalam balutan langit yang enggan mengantarkan kepadamu. Bahkan sorakan ilalang bagai menampar akar hati yang dahulunya sangat kokoh menjadi lemah bersimbah kekelaman. Dan lagi, haruskah barisan belalang menyudutkan atmamu untuk memenuhiku? Tetapi, kau hanya memangku rahasia dan membisukan segalanya. Lalu, aku mencoba menyibakkan dengan segenggam tawa meski tak tahu bisa menambah atau mengurangi segala risau detik ini. Pejuang Luka Bogor, 19 Oktober 2019

puisi Darwiensyah

Kembali aku kemeja kopi Melihat kesana kemari Mencicipi isi Dari aroma busuk dan wangi Sejenak aku tersenyum sendiri Meyerput setangkai puisi Dari sicantik peramu diksi Tapi pahit. Ah...mukin karna gulanya cuma fiksi.. Wiensyah Gl.2019

Puisi Rembulan

Rembulan Kau tak bersinar malam ini Cahaya mu lenyap ntah kemana Bintang kecil pun ikut menghilang Yang ada hanya segumpal awan hitam Rembulan malam .... Banyak kisah yg terkenang Gumpalan awan hitam maLam ini... Mampu menceritakan seberapa pelik sesak di hati Segumpal awan hitam ini .... Menjadi teman sesak malam ini Hening ...lalu sendiri Tak ada lagi sandaran yang menyangga kepala ini Rembulan malam ... Aku menitipkan rindu ku Pada segumpal awan hitam Yang tidak di hiasi cahaya rembulan mu dan bintang NurAeni 17 oktober2019

DISHYAM

Dishyam Dishyam yang begitu sunyi Aku melihat indurasmi Bersinar terang Dilangit Dishyam yang begitu sunyi Aku hanya merasakan Sarayu menyentuh Kulitku Saat syam datang menyapa Aku merasakan sebuah Kedamaian dalam Jiwa Dan bagiku malam adalah Tempat terindah untuk Mengenang kisah Tentangmu Waam Sidoarjo 17Oktober2019

Puisi Karya Kayla Aziza "Teori Kasih"

TEORI KASIH oleh: Karya Kayla Aziza Kasih berkasih mengasih terkasih kasih kekasih kasih kekasih berkasih mengasih. Mengasih kasih terkasih berkasih kasih mengasih mengasih kekasih berkasih kasih. Terkasih berkasih kasih kasih mengasih berkasih berkasih kasih terkasih mengasih. Berkasih kasih kekasih mengasih berkasih kasih terkasih kasih mengasih berkasih. Tanjung Tabalong, 17 Oktober 2019

Setelah sarjana mau apa?

Setelah sarjana mau apa? Untuk : @liefirfan Membentang jarak, menciptakan kasta? Terbang ke kayangan,  risih menginjak bumi? Melambaikan tangan pada ilmu,  selamat jalan pada guru? Diriku ... Jika membancik strata satu,  kau beranggapan sudah lebih tinggi setingkat dari sekelilingmu,  kau amat keliru Jika atas dasar ijazah,  kau malu menginjak sawah,  kau amat bersalah Lebih baik, tetap menjadi manusia tanpa gelar Jika setelah foto bertoga,  kau tak bisa hidup wajar. Diriku ... Sebelum larut dan bertambah lebur.  Segera bedakan,  ilmu itu tinggi atau luhur? Kumpulkan pengetahuan,  beda antara kasta dan setrata? Diriku ... Berapa banyak sarjana di negeri kita? Berapa dari mereka yang berhasil mencapai setengah dari esensi pendidikan yang mereka terima? Padahal bahan ajar yang diberikan belum tentu 100% benar,  di mata zaman dan peradaban. @liefirfan

TATA SURYA AKSARA - Irwanesia

Tata surya aksara Bintang Berbinar cahaya Tak kenal padam Bila kita tak sayonara Rembulan Terang benderang Tak berubah warna Buram bila kau tinggal Langit Singgasana taman Muara elok kehidupan Apakah kita akan menghuninya? Bumi Kaki berpijak Netra saling menatap Tetap akan sebuah tatap Kau Adalah aku Makhluk berprasa sosial Kau beruntung aku sial Aku Tiga kata Akan kulakukan ucap Atas debar di dada Kita Satuan kata Komplikasi sindrom gen Yang mempunyai banyak kisah Lelap Mata meredup Senyap kian menetap Pada tiap mata kita Irwanesia 2019

Puisi Patidusa

Hujan pertama setelah kemarau Hujan pertama setelah kemarau Dunia sejuk terpukau Terik merantau Parau Rintik pertama menyentuh tanah Indah aroma pesona Nelangsa sukma Unggah Basah pertama setelah kering Jingga seolah mengerling Rindu bersanding Pening Hujan turun seirama rasa Sejukkan dahaga jiwa Perindu kelana Pertama E.N.A. 19/10/19

Delphinium oleh Pejuang Luka

Delphinium Tirai - tirai di sudut gulita sengaja kubuka. Permadani telah terpasang anggun walau sekadar direndahkan. Ribuan lilin menari indah bersama segerombolan bunga. Lentera bertuliskan nama siap mengukir langit ceria. Gaun sederhana bak dewi merpati membalut diri. Lukisan kenangan membentuk kita pada dinding ruang putih. Balon warna warni menghiasi bagian yang hampa. Lembayung senja bersiap menunjukkan pesona paling abadinya. Aku menunggu seseorang di tengah hamparan ilalang yang hanya bergandengkan bayangan semu dipenuhi ragu. Bunyi lonceng hampir menguras waktu tak berpaut. Suara pedal bergerigi mulai menghampiri jarak terlelahkan. Senyum edelweis kini kuhadirkan setulus angin berhembus. Perlahan detak berlagu tak beraturan seperti semula. Mungkin saja ini sebuah pertanda pesta kebahagiaan dan hari yang enggan dihentikan untuk berlalu. Sosoknya terdengar memijakkan langkah seperti tergesa berlarian. Benak berharap takkan ada hal muncul menakutkan. Hingga akhirnya ia tiba dala...

Kita hanya sebaris puisi

Jika hanya sebaris puisi,  aku sudah menjumpainya di setiap sudut halaman IG Jika cuman nyanyian,  aku hampir bosan memutarnya di youtube Jika sekedar gambar,  aku bisa mencarimu di beranda facebook Semua tentang dirimu, bisa ku temukan. Kecuali secercah perhatian. Lantas darimana,  engkau sebut itu cinta Mengatas namakan karya,  untuk menggugurkan kata cinta sebagai kata kerja? @liefirfan

Puisi dari TITIK REMANG Tony

Kalam Tuhan tidak akan berbohong Kepada hamba setia-Nya Tiap firman dijabarkan Dengan metafor sederhana Suatu ketika di suatu wilayah Ada dua orang berbicara "Filman Tuhan selalu benal," Kata seorang satu "Siapa Filman? Apakah tukang bakso?" Dengan terheran seorang satunya bertanya "Misalnya dilalang beljudi." Dengan mimik serius "Apa itu beljudi?" Ayam jago berkokok di dadanya Bandung 2019, -titik_remang