Kita berada dalam pertengahan drama senja tatkala jingga tak lagi bergeming pada waktunya. Aku membias dalam balutan langit yang enggan mengantarkan kepadamu. Bahkan sorakan ilalang bagai menampar akar hati yang dahulunya sangat kokoh menjadi lemah bersimbah kekelaman. Dan lagi, haruskah barisan belalang menyudutkan atmamu untuk memenuhiku? Tetapi, kau hanya memangku rahasia dan membisukan segalanya. Lalu, aku mencoba menyibakkan dengan segenggam tawa meski tak tahu bisa menambah atau mengurangi segala risau detik ini.
Pejuang Luka Bogor, 19 Oktober 2019

Comments
Post a Comment