Halo
coy, salam santun, salam sapa, dan salam kenal untuk semuanya. Mumpung harga
salam belum naik, kayak harga susu yang melambung tinggi kata bang Iwan Fals,
jadi ye salamnya banyak.
"Puisi adalah bentuk karya sastra yang terikat oleh irama, rima, dan penyusunan bait dan baris yang bahasanya terlihat indah dan penuh makna"
Ya,
itulah pengertian puisi secaara umum yang kami comot (read: copas) dari
https://id.m.wikibooks.org. Tuh gue kasih link
biar gak dikira berplagiat, ntar bisa di demo ama pedagang siomay, bakwan
Malang, tahu bulat lima ratusan kempes
Lanjut
aja dahh ....
Pada
kesempatan yang berbahagia, sejahtera, aman dan sentosa ini, para punggawa dari
komunitas Kerajaan Puisi akan membuat suatu historis yang pada jaman now sudah banyak yang lupa sejarah. Well ini akan gue kenalin ke sebuah
komunitas sastra, komunitas puisi lebih tepatnya, menurut banyak orang dianggap
karya cengeng, padahal secara kodrat irodat pada dasarnya setiap manusia itu
puitis lho. Komunitas ini terbentuk 23 Mei 2018 dengan nama "KerajaanPuisi". Gue bilang terbentuk ye, bukan lahir, soalnya kagak ade emak ma
bapaknye. Ente bayangin dah kalau punya emak ma bokap pasti bukan komunitas.
Gak usah protes!!!
Kita
cuma komunitas yang biasa saja seh, cuman terkenal kekejamannya bagi anggota
yang tidak aktif pasti langsung di kick.
Hadir hanya untuk sebagai wadah untuk berkarya, khususnya puisi. Kerajaan puisi
sendiri "dilahirkan" dengan tidak sengaja, diawali oleh obrolan
absurd "trio kalong", The Dust
of the Universe; orang yang "katanya" paling kejam dan sangar,
dan menjadikan karyanya sebagai alas tidur kecoak aja, Bydi; si pengelana waktu dengan kegalauannya memikirkan
mantan-mantannya (woyyyy mup on woyyyy!!!), dan Rumpun Sedayu a.k.a. Aha DM,
yang selalu menjadi primadona bak bidadari surga turun ke bumi, doi juga
barusan menempuh lembaran baru coy, selamat ye tante kece badai
melambai-lambai. Perjojodohan ketiganya pun saat sama-sama di group puisi. Nama Kerajaan Puisi pun
dibuat bukan dengan sembarangan maupun asal-asalan dan tidak ngawur, butuh
wangsit dari 7 gunung berapi dan 7 samudera. Meski tak sesulit pertapaan
seorang pencari wangsit, cukup sulit juga menentukan nama ini. Karena sebelum
"sah" diberi nama Kerajaan Puisi (KP), salah seorang dari trio
kalong, si pengelana waktu harus berkelana ke segala penjuru mata angin, hingga
harus merelakan jam tidur pada malam hari untuk sekedar membuat formula yang
maha dahsyat nama-nama yang akan dipakai. Tujuannya hanya untuk "menghindari
nama yang sama dengan komunitas puisi lain" biar kagak dibacotin sebagai
plagiator atau cloningan dari
komunitas lain, padahal bukan ahli strategi perang ataupun ahli biologi. Secara
komunitas puisi gitu loh.
Trus-trus, KP ngapain
aja?
Seperti
layaknya komunitas seni lainnya, KP juga memiliki alasan tersendiri dihadirkan
di muka bumi ini. Sejak kehadiran pertamanya di dunia medsos. Whatsapp, KP
hanya bertujuan untuk menyediakan wadah (ajang) untuk berkarya puisi. Meskipun
tak terlihat seperti visi-misi, tapi alasan kemunculan KP juga bisa dikatakan
sebagai misi untuk visi. Jadi semacam standar ganda kali ye ....
Kita
semua baik yang abege, bapak, ibu, mbah, dan sodara sebangsa dan setanah air
beta, sama-sama telah melihat sendiri daya minat sastra di indonesia tercinta
ini mulai surut. Entah karena sistim pembelajaran atau kurikulum (yang nantinya
akan dibahas oleh bunda R. Latifah) ataupun karena sastra itu hanya terlihat
seperti sebuah "pelajaran semata". Meskipun ada peminatnya, itu pun
sedikit. Mungkin pada malu dianggap sok puitis kali ye, padahal bangsa ini
dulunya di bakar semangat juang lewat puisi perjuangan, belum lagi abad
pertama. Mungkin gak banyak yang tau juga ye, whatever-lah...
Khususnya
puisi, "terlihat" sangat sedikit orang-orang yang tertarik padanya.
Padahal kenyataannya tidak. Meskipun di televisi, panggung hiburan, dan youtube
sudah mulai jarang ditemukan puisi, tapi sebenarnya penikmat puisi itu masih
sangatlah banyak. Mereka hanya bersembunyi di balik buku harian saja. Padahal
dengan puisi kita bisa mencurahkan apa pun, entah itu tangisan, kesedihan,
kebahagiaan, amarah, kritikan maupun curhat tentang rindunya kepada mantan (
kayak si pengelana waktu tuh curhat mantan melulu), Just ngguyu.
Kita
hanya tak punya panggung untuk mengeksplorisasikannya saja. Meskipun KP
bukanlah panggung hiburan seperti acara sorak sorai "lalala yeyeye lalala
yeyeye" yang rame ntu, namun kehadiran KP diharapkan mampu menjadi tempat
untuk menumpahkan segala rasa yang akan dituangkan pada sebuah karya tulisan,
puisi. Baik bentuk tulisan yang akan dimasukkan ke dalam salah satu
pengembangan komunitas yaitu e-magazine
"Baraseni" dan web gratisan (maklumlah
fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara teman-teman), atau
pembacaan puisi yang akan di-upload
ke Instagram dan channel YouTube
Kerajaan Puisi. Jangan lupa subscribe
ya. Inilah panggung kita, tapi gak ada lighting
maupun kameramen ya. Suwooggg!
Oke
coy, perkenalannya cukup sampai di sini saja, biar pada penasaran. Untuk yang
ingin kepo silahkan like fanspage
atau gabung di grup Facebook Kerajaan Puisi, follow Instagram @kerajaanpuisi, dan subscribe channel YouTube Kerajaan Puisi untuk mendukung kami terus
berkarya.
NB:
Artikel by BARASENI

Comments
Post a Comment